Tentang Hujan Dan Sebuah Cerita Dari Selatan

Sepertinya langit sedang marah, atau kita yang sudah tidak mengerti bagaimana cara berteman dengan alam.

Sudah dua hari ini Yogya diteriaki petir dan hujan angin yang cukup ekstrim.
Kemarin aku di rumah, menemani keponakan2ku dan memindahkan barang-barang penting yang sedang dirembesi hujan.
Sambil mendengarkan petir dan kilat yang bersahut-sahutan, menggantikan suara tv yang sudah tidak menyala lagi, mati lampu.

Dulu aku paling takut mendengar suara petir, tapi kemarin aku menikmati setiap suara yang dihasilkan langit.
Sampai isya hujannya tidak berhenti, syukurlah keponakan2ku tidak terlalu takut akan gelap, malah bermain meniup lilin-lilin yang dinyalakan, menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Aku menikmati semuanya, celotehan bocah-bocah dan irama hujan.

Selepas isya baru hujannya agak reda, walau masih menetes tapi pelan-pelan. Gerimis.
Aku dihubungi seorang teman, mengajak keluar untuk sekedar menghabiskan malam dan kusuruh menunggu sampai orangtua keponakanku tiba di rumah.
Tidak lama mereka datang, dan aku pergi, menghabiskan malam sambil ngopi2. Ditemani gerimis.

***

Hari ini aku ke pameran buku, hanya melihat-lihat.
Melihat buku-buku diskon yang ternyata menggoyahkan iman, membeli satu buku, padahal aku sedang tidak minat membaca.
Setelah dari pameran buku, aku berjalan-jalan. Mengikuti arah stang motorku yang entah kemana, tanpa tujuan.

Lalu aku teringat, kalau tali jam tanganku putus dari dua minggu yang lalu dan belum sempat kuperbaiki, tepatnya sih diganti.
Kubawa motorku ke arah selatan, ke tempat yang aku tahu adalah tempat terbaik untuk urusan bahan kulit, Manding.

Sampai disana, bertanya sana sini, hingga akhirnya aku ke tempat pembuatan kulitnya, memberi contoh kulit jam tanganku yang untungnya kubawa di tas kecilku.
Cukup 15 ribu dan aku dijanjikan kulit yang setara dengan aslinya.

Santai sejenak di angkringan untuk membasahi kerongkongan dan mengasapi mulutku.
Ngobrol ngalor ngidul dengan si penjual angkringan tentang hujan kemarin, tidak terasa, langit mulai menghitam.

Kuputuskan untuk segera pulang, takut hujan segera turun dan aku tidak membawa jas hujan.
Baru sampai perempatan Manding, gerimis sudah turun.
Aku tidak berbelok ke kiri ke jalan Parangtritis, lurus terus melewati jalan yang bukan jalan utama yang aku tahu tembusnya adalah jalan Imogiri. Lebih cepat ke Jalan Solo, pikirku.

Sampai di jalan Imogiri, hujan sudah tidak tertahan, tumpah ruah membasahi apa yang ada di bawahnya, tetap dengan kilat dan petir-petirnya.
Basah, dan mencari tempat berteduh, akhirnya aku menemukannya juga.
Berteduh bersama beberapa motor dengan kondisi yang sama denganku, tanpa jas hujan.

Aku memandang sekitar, melihat sawah dan lalu lalang kenderaan yang menerobos hujan.
Ada lapangan luas lalu agak jauh ada sebuah Rumah Sakit, dan tiba-tiba aku merasa mengenal tempat ini.

Tempat yang sekitar empat tahun lalu pernah menjadi tempat wara-wiriku hampir 2 minggu bersama teman-teman kampus.
Sekedar membantu apa saja, menguatkan hati saudara-saudaraku yang tertimpa musibah yang bernama gempa bumi.

Aku menatap rumah sakit itu dari kejauhan, lebih besar dari yang dulu dan sedang diperbaiki, mungkin akan dibuat lebih besar.

Syukurlah sekarang setiap orang yang kutemui di tempat ini bisa memberi senyum tulus, walau dulu mereka begitu banyak kehilangan.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response.
13 Responses
  1. hujan, petir, angin, dan kabut nampak sudah menjadi sahabat karib untuk sekarang ini...
    mari berteman dengan mereka :)

  2. sekarang daerah seturan tuh, berantakan banget... badai

  3. jakarta utara malah jarang ujan.

  4. semoga teriakan petir dan angin pada hujan, bukanlah sebagai pratanda kemarahan alam yg bakal terjadi nanti ya sob..

  5. entah knp gw selalu ingin balik ke Jogja walaupun hampir seluruh daerah pernah gw sambangi....

    btw gw ga gitu suka hujan, gw lbh suka selepas hujan reda dengan bau tanahnya... :)

  6. langit memang sedang marah
    disini selalu turun hujan disertai kilat dan petir yg menggelegar

  7. saya juga dulu sempat takut sama ptir...
    ada kejadian orang meninggal kena sambar petir, rumah yang sengnya terbang semua karena badai, antena parabobola yang seketika mirip jadi paralayang...

    Ah... untung sekarang saya sudah tidak takut lagi... ehehehe

  8. >> minomino : betul, mari berteman dengan mereka :D

    >> suryaden : hujannya memang agak ekstrim :(

    >> Sang Cerpenis bercerita : hujannya milih2 mbak :P

    >> Pohonku Sepi Sendiri : semoga kita masih dilindungi :)

    >> Azhar : saya juga suka sehabis hujan, karena ada pelangi :D

    >> Desfirawita : wah, sama donk :(

    >> bandit™perantau : berarti kita sama lae.. :)

  9. aku ngalamin hujan paling ngeri di pekanbaru, wuah udah deres petirnya kaya lagi konser duar duer, anginnya kuenceng pula ngewi

  10. gravatar mc

    suatu tempat akan lbh berarti rasanya emang klo ad kenangan tersendiri

  11. Fan, sekarang bahasmu lebih santai dalam menulis. Eh, rupanya Fandy ini Om yang baik yah? :)

  12. >> richo : wuah, memang lagi musim cuaca buruk bro, take care.. :)

    >> mc : Betul... :D

    >> Anazkia : Lah saya malah gak 'ngeh' kalo bahasanya jadi lebih santai, makasih makasih.. *ntar nulis yang lebih santai ah* :D
    Saya dari dulu memang om yang baik mbak :P

  13. kalau cerita dari jawa barat bagian utara adalah banjir :(

Leave a Reply

Related Posts with Thumbnails